Minggu, 21 Maret 2010

MENYOLDER KABEL (KABEL DAN KONEKTOR BAGIAN II.)

MENYOLDER KABEL
KABEL DAN KONEKTOR BAGIAN II.
Oleh : Emir F. Widya



Kabel dan konektor, masih ingat artikel saya beberapa bulan lalu tentang jenis kabel? Permasalahan pelik dari perkabelan belum berhenti sampai kita mengenal jenis kabel. Ternyata bagaimana kita menyoldernya menjadi masalah paling pelik. Pengalaman 16 tahun di dunia sound sistem profesional membuat saya mengerti lebih jauh mengapa masalah sering terjadi dengan solderan. Saya akan membagikan sedikit rahasia dapur saya dalam artikel ini.


Pak Tolong Saya Pak

Beberapa tahun lalu saya dihubungi seorang teman baik saya dan meminta saya untuk membantu rekannya di Bandung karena proyek instalasi sound systemnya terancam batal. Tidak lama kemudian saya dihubungi rekan dari teman baik saya, “Pak tolong saya Pak.. proyek saya di Bandung terancam batal dan tidak dibayar”. Wah apa yang terjadi ini, saya harus menolong sesama rekan yang sedang dalam masalah saya pikir. Saat itu saya sedang berada di Jakarta, segera saja saya tancap gas pulang dari ke Bandung. Di tengah jalan tol di antara Bandung dan Jakarta saya di temui oleh Bapak yang telah menelepon saya. Kemudian ia menceritakan apa yang terjadi dengan proyeknya yang sedang dirundung masalah di Bandung.

Rupanya beliau sedang mengerjakan tempat hiburan yang sudah sempat dibuka namun pemiliknya segera menutupnya kembali, karena banyaknya permasalahan dengan sound sistem mereka. Pemilik tempat tersebut sudah marah-marah karena ternyata semua ruangan karaoke mereka tidak dapat digunakan. Saya bertanya-tanya, kok bisa ya? Selidik punya selidik ternyata semua sound sistem di dalam ruangan-ruangan karaoke tersebut mengluarkan suara mendengung. Mereka sudah tidak dapat berpikir lagi, mengapa suara dengungan bisa keluar dari speaker, dan penyebabnya tidak dapat mereka temukan. Dan tentu saja pemiliki tempat tersebut tidak mau membayar pekerjaan Bapak ini karena pekerjaannya dianggap tidak benar dan tuntas.


Pantas Saja Solderan dan Kabelnya Jelek

Akhirnya saya sampai di tempat tersebut di utara kota Bandung yang sejuk, tidak perlu menunggu lama, segera saya memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memeriksa sistem yang telah mereka pasang dalam ruangan-ruangan untuk karaoke. Sistem karaoke yang mereka gunakan adalah dengan memanfaatkan komputer sebagai sumber audio dan videonya. Setelah saya mendengarkan suara yang direproduksi oleh speaker, kesimpulan saya dari kasus yang terjadi hanya satu, yaitu, kabel! Ya mudah, hanya kabel saja. Saya menduga pasti kabelnya asal-asalan, benar saja ketika saya mengintip ke bagian belakang rak mereka, ternyata kabel mereka asal jadi semua. Perlahan-lahan saya lepaskan satu persatu sambungan yang ada dan saya dapati seperti apa yang dapat kita lihat pada Gambar A. hingga Gambar C. Mengapa saya katakan kabel tersebut hanya asal jadi? Ternyata banyak sekali sambungan kabel dengan konektor yang pada bagian solderannya yang tidak matang dan bercelah. Bukan hanya solderan saja, masih ditambah parah lagi dengan kabel yang mereka pergunakan juga tidak sesuai dengan peruntukkannya.



Gambar A. Sambungan yang buruk Neutrik NP2C palsu dan RCA.

Sudah cukup parah permasalahan yang mereka miliki, ternyata ibarat sudah jatuh masih tertimpa tanggal pula. Mereka juga menggunakan konektor Neutrik palsu dan kabel Canare palsu sehingga menambah runyam masalah yang mereka hadapi. Beberapa hari kemudian kembali saya temukan permasalahan lainnya, yaitu pada kabel listrik. Kabel listrik mereka juga bermasalah dan kabel listrik mereka benar-benar asal jadi, dengan nekat hanya menggunakan 2 kabel tanpa kabel ground. Akhirnya saya memang harus mengulang instalasi sound sistem 10 room karaoke mereka dari awal dan meneliti permasalahan setiap ruang yang umumnya memang bersumber dari kabel audio, video, dan listrik.



Gambar B. RCA paralel murahan dan Neutrik NC3FX palsu.



Gambar C. Solderan yang buruk, Canare L2-T2S palsu dan Neutrik NC3MX palsu.

Membuat Sambungan yang Benar

Sangar sering saya ditanya oleh banyak orang bagaimana cara menyolder yang baik dan benar. Rupanya cukup banyak orang sudah frustrasi menyolder kabel, seringkali sebenarnya kesulitan penyolderan terjadi karena alat-alat bantu yang salah atau tidak bahkan tidak membantu pekerjaan kita sama sekali. Tadinya saya pikir orang-orang yang frustrasi menyolder cuma terjadi di Indonesia saja, ternyata sampai ke negara tetangga Australia dan Malaysia penyakit ini menular juga. Pada umumnya di negara tetangga kita tenaga kerja mahal, mereka memilih menyolder kabel dan konektor mereka sendiri. Sebagai akibat mereka kurang mengerti dan kurang mahir menyolder, hasilnya dapat kita lihat. Bukan hanya kabel saja yang bermasalah tetapi sambungan konektor microphone mereka juga. Berkali-kali konektor laki-laki pada microphone mereka terlepas dari rumahnya, dan mereka memperbaikinya dengan menyolder. Di Malaysia saya baru-baru ini menemukan sesuatu yang tidak kalah menarik, rekan-rekan pelajar Indonesia yang ada di Malaysia menyolder kabel dengan cara yang unik, yaitu tanpa membuka rajutan pelindung kabel. Ha, ha, ha... yang mengherankan kok bisa kabel ini bekerja dengan baik.



Gambar D. Kawat kabel groundnya terlepas, konektor tersolder.



Gambar E. Herannya masih menyambung walaupun solderan tidak benar.



Gambar F. Timah terlalu banyak hingga solderan menggelembung, ini hasil solderan rekan Australia.



Gambar G. Ini solderan mahasiswa Indonesia di Malaysia

Tentu saja di dalam benak kita kembali timbul pertanyaan, “Bagaimana membuat sambungan antara kabel dan konektor yang baik dan benar?”. Tentu saja kita semua ingin mengetahui rahasianya bukan? Sebenarnya mudah saja, langkah yang paling penting sebenarnya adalah pemilihan alat-alat bantu yang benar. Apa yang kita perlu persiapkan sebelum kita menyolder? Alat-alat yang perlu kita persiapkan adalah sebagai berikut :

1. Cutter atau pisau, saya lebih senang yang sedikit kurang tajam, tujuannya adalah agar bagian dalam kabel tidak ikut terpotong.
2. Solder yang cukup panas, jangan menggunakan solderan kecil karena panas yang ada akan kurang, saya lebih menyukai yang berbentuk pistol dan dapat mencapai 120 watt.
3. Timah yang baik, jangan menggunakan timah yang terlalu banyak mengandung lemak atau yang berbentuk seperti minyak cair apabila kita sentuhkan dengan ujung solder. Sebenarnya lemak ini bertujuan untuk memudahkan timah dapat menempel pada permukaan yang akan kita solder.
4. Tang untuk memotong yang cukup tajam.
5. Saya selalu menyiapkan tissue untuk membersihkan ujung solderan.

Saya anjurkan untuk rekan-rekan yang baru mulai belajar menyolder, sebaiknya menggunakan kabel Canare L2-T2S yang asli. Karena hanya kabel inilah yang pembungkus luar kabelnya yang dapat bertahan dari suhu solderan yang tinggi atau ujung solderan yang kita tempelkan terlalu lama. Proses menyambungkan antara kabel microphone dan konektor XLR yang baik adalah sebagai berikut :

1. Potonglah bagian ujung kabel microphone sebanyak 2 cm secara melingkar, sekeliling pembungkus kabel bagian luar.



Gambar H. Kupas pembungkus luar kabel sebanyak 2 cm berkeliling.

2. Untuk kabel-kabel yang menggunakan pelindung yang berupa rajutan kawat-kawat yang sangat kecil. Lepasakanlah rajutan kawat tersebut terlebih dahulu, kemudian menyisirnya ke satu arah. Untuk melepaskan rajutan dan menyisir kawat-kawat tersebut dapat kita gunakan pinset atau obeng minus yang kecil. Setelah rapih tersisir kita pilin kembali kawat-kawat tersebut.



Gambar I. Bersihkan benang pengisi, sisir kawat-kawat pelindung, dan kupas bagian ujung kabel dalam sebanyak 3-5mm.

3. Pangkaslah benang-benang pengisi di antara kabel-kabel pada bagian dalam kabel microphone.
4. Kupaslah bagian ujung kedua kabel kecil untuk positif dan negatif yang terbungkus dengan lapisan PVC, kupaslah berkeliling hingga kabel terbuka sepanjang 3 sampai 5 mm.
5. Kemuadian balutlah ketiga kabel yang telah terbuka dengan timah, disarankan untuk menggunakan timah dengan titik lebur yang rendah. Kemudian potonglah ujung kabel yang telah kita balut tadi yang sehingga rapih dan sesuai dengan kedalaman mangkok tempat kita dapat memasukkannya ke dalam pin konektor untuk kita solder.



Gambar J. Bungkus hasil kupasan dengan timah, dan bersihkan mata solder selalu.

6. Penuhilah mangkok pada bagian yang akan kita solder pada konektor XLR dengan timah secukupnya. Jangan terlalu sedikit ataupun terlalu berlebihan. Jika anda menggunakan XLR murahan, anda tidak dapat menempelkan mata solder terlalu lama, karena akan membengkokkan konektor karena bahannya yang tidak tahan panas. Kurangnya timah akan tampak seperti pada Gambar K.



Gambar K. Kurangnya timah pada solderan

7. Panasilah mangkok tadi satu persatu hingga timah mencair dan masukkanlah kabel yang telah kita balut dengan timah tadi.

Mengapa saya membalut kabel yang sudah saya kupas atau kawat-kawat pelindung yang saya sisir? Tujuan utama pembalutan ini adalah agar tidak ada satupun kawat yang terlepas dari pilinannya dan bersinggungan dengan bagian konektor maupun kabel yang terbuka sehingga mengakibatkan konsleting. Gambar L. memperlihatkan kawat pelindung kabel yang tidak terbalut, dan sangat berbahaya karena dapat membuka dan menyentuh bagian yang tidak terbungkus.



Gambar L. Kawat-kawat untuk ground yang tidak disolder.

Jika rekan-rekan belum mahir menyolder, terlalu lama menempelkan mata solder umumnya akan membuat timah menjadi kusam karena terjadinya penurunan kualitasnya sebagai akibat suhu yang terlalu panas. Buanglah timah yang telah berwarna kusam dan gantilah dengan timah yang baru, sebagai gambaran hasil solderan yang baik, harus berwarna mengkilap dan bersih dari kotoran. Warna kusam dan kotoran dapat pula diakibatkan oleh terkumpulnya residu timah pada mata solder, bersihkanlah dengan tissue sehingga bersih. Jika tidak hasil solderan kita akan tercemari residu timah yang telah menjadi rusak.


Kunci Utama pada Timah

Jika kita perhatikan kebutuhan di atas tentu saja akan kita anggap spele, karena semuanya kita miliki dan tidak ada istimewanya. Ya, benar semua bahan-bahan di atas kita bisa dapatkan di pasar elektronik, cuma satu yang tidak bisa kita dapatkan dengan mudah, yaitu timah solder. Padahal timah solder adalah kunci utama keberhasilan kita dalam menyambungkan kabel dan konektor. “Lho.. banyak kok timah solder di ditoko elektronik..” ini komentar peserta seminar di mana saya menjadi pembicara trainer mereka. Benar timah solder dengan mudah kita jumpai di toko elektronik, tetapi tahukah kita akan kualitasnya? Saya sudah mencoba berbagai macam merek, yang masih cukup baik hingga saat ini adalah Asahi.

Mengapa timah solder justru menjadi permasalahan yang cukup menentukan? Saya rasa semenjak krisis ekonomi tahun 1997, material timah kita semakin buruk, apalagi dengan timah buatan Cina. Banyak sekali bahan pengotor di dalam timah solder, ini terlihat dari mata ujung solder kita cepat sekali menjadi menghitam dan menjadi kotor. Hasil solderan juga tidak mengkilap seperti kita menggunakan timah solder yang baik. Solderan dengan timah yang buruk akan terlihat kusam dan berkesan tidak matang (atau tidak menempel dengan baik).

Solderan yang tidak matang akan menimbulkan celah antara timah, kabel dan permukaan kontak. Akibatnya adalah pada celah ini terjadi loncatan arus sinyal audio, ini bisa menimbulkan suara yang terdistorsi. Masalah yang lainnya yang dapat timbul adalah masuknya gelombang elektromagnetik atau juga gangguan dari sinyal radio, rekan-rekan tentu saja sangat tidak ingin apabila sedang menikmati acara yang sedang berlangsungh tiba-tiba terganggu dengan suara radio 2 meteran yang sedang dipergunakan untuk pacaran... ? Masalah lainnya yang dapat terjadi adalah timbulnya dengungan (hum) pada frekuansi tinggi karena celah ini atau solderan yang tidak matang. Ciri-ciri timah solderan tidak matang adalah hasil solder tampak seperti tetesan air dan tidak terlihat merata di atas permukaan yang kita solder.

Celah ini dapat juga diakibatkan karena banyaknya terlalu banyak lemak (atau ada juga yang menyebutnya arpus) yang berada diantara kabel, timah dan permukaan konektor. Sebenarnya tujuan lemak atau arpus ini adalah baik, yaitu untuk memudahkan agar timah solder dapat masuk hingga ke dalam kabel atau menempel dengan mudah pada permukaan yang ingin kita solder. Hanya saja jika berlebihan maka justru dapat menghalangi permukaan timah solder merekat dengan baik pada permukaan solder. Timah solder sebenarnya jika kita perhatikan di bagian tengahnya terdapat lubang yang berisi lemak atau arpus ini. Jangan sekali-kali kita menggunakan arpus tambahan, jika kita menggunakan konektor murah, dalam beberapa waktu area bagian unjung yang kita solder dapat berkarat dan patah.

Belum tentu timah dengan harga mahal akan menghasilkan solderan yang baik, saya sudah mencoba berbagai merek dari yang murah hingga yang mahal. Ada timah solder dengan harga ratusan ribu per rol 250 gram, tetapi jika kita pergunakan untuk beberapa jenis konektor malah sulit menempel dengan baik. Justru untuk konektor ini kita harus menggunakan timah murah seperti Asahi.

Seni Menyolder

Seni menyolder, saya menyebutnya demikian, karena ternyata ada orang-orang yang menyatakan dirinya sound engineer tetapi tidak bisa menyolder dengan baik dan benar. Untuk menjadi sound engineer yang baik, jangan hanya mengandalkan diri pada alat-alat yang mahal atau kuping emas rekan-rekan. Tetapi belajarlah menyolder, merupakan dasar dari semua ilmu sound sistem yang lain, di mana kita akan belajar bagaimana menyambungkan dan jenis sambungan. Memang sebentar lagi semua peralatan sound akan digantikan dengan perlatan digital, tetapi marilah kita pelajari seni menyolder agar memperlengkapi dasar pengetahuan kita.

Penulis adalah pemilik Tujuh Konsultan dan Kontraltor Tata Suara, dan menjadi konsultan bagi Kairos Multi Jaya, dapat dihubungi ke alamat e-mail ke tujuh10@hotmail.com atau 0818225113.

Box khusus :
Pergunakanlah timah yang baik untuk menyolder ada beberapa timah yang baik untuk menyolder yang beredar dipasaran Indonesia. Asahi adalah mereka yang paling murah dan cukup baik, jangan pergunakan merek lainnya karena sering menimbulkan masalah, seperti tidak matang dan sulit menempel. Merek-merek mahal yang patut kita coba adalah Shark, Vampire dan lain-lain, kedua merek ini mencampurkan timah mereka dengan perak sehingga hasilnya menjadi berkilap dan matang.
Untuk timah dengan titik lebur rendah, saya hanya menemukan merek Jepang yaitu Nihon. Hanya saja lemak yang dimiliki cukup banyak sehingga membuat permukaan mangkok pin konektor menjadi berlemak dan sulit menempel. Sebaiknya untuk mengisi mangkok pin konektor gunakanlah Asahi, komposisi bahannya penyusunnya cukup baik, dan mudah menempel pada permukaan pin konektor.

27 komentar:

  1. Mantap tulisanya.
    Trims Mas Emir.
    Kita tunggu artikel2 lainnya

    BalasHapus
  2. Baik Bung.. tapi saya harus kejar setoran ini Bung.. jadi belum sempat menulis lagi Bung..

    BalasHapus
  3. cocok banget bang ini pembelajaran baru buat saya dan rekan2 pdhl kyknya sepele sekali yah bang tapi mematikan

    BalasHapus
  4. top markotop tulisannya bang,,

    BalasHapus
  5. Terima kasih Mas, semoga banyak manfaat.

    BalasHapus
  6. Kalo ke Jepara nitip timah ya.....;)

    BalasHapus
  7. mas Emir ,saya mau tanya Apakah mas Emir terbitkan buku Cara solder yg baik untuk segala kabel sound & audio rumahan . trim Franz jkt

    BalasHapus
  8. Wah saya belum sempat menulis Bung Franz, soalnya masih belum memadai pemasukan saya untuk saya bediam diri menulusi buku.. waktunya yang tidak ada Bung.

    BalasHapus
  9. sekali waktu tulis dong masalah instalasi mixer untuk kami yang baru ngenal dengan sound sistem, thank's bang

    BalasHapus
  10. Yang dilakukan kawan mahasiswa Indonesia di Malaysia tuh sungguh hebat. Mengurangi kemungkinan RFI di konektor sebesar mungkin walaupun rentan short. Cara itu juga digunakan dalam crimping konektor N untuk sinyal radio berfrekuensi tinggi, tujuannya mengurangi insertion lost dan RFI+EMI.

    Kalau punya gulungan/roll timah, jangan simpan sembarangan krn timah mudah terkena oksidasi (jadi gelap warnanya) kalau terkena lembab atau minyak dari kulit.

    Menyolder konektor usahakan sekali jalan saja. Jangan menambah timah ke solder yang sudah terbentuk. Karena flux/rosin/arpus dari timah yang baru bisa saja terselip di antara lapisan solder karena solder yang lama tidak mencair utuh. Akibatnya fLux yang tersisa bersifat korosif dan menyerang lapisan solder dari dalam.

    Untuk membuang kerak flux/arpus bisa dipakai thinner atau isopropil alkohol

    BalasHapus
  11. sukses terus bang ! terima kasih banyak atas share ilmunya.salam -dicky-

    BalasHapus
  12. bang, yang dimaksud canare palsu dan neutrik palsu itu yg buatan mana? buatan taiwan, atau lokal indonesia?

    terimakasih,..

    BalasHapus
  13. pengalaman saya dalam hal menyolder, alat solder yang cukup baik yang pernah saya gunakan HAKKO No.922, meskipun hanya 55watt tapi dapat menghantarkan panas yg baik dan konstan, karna menggunakan rangkaian komponen yang berfungsi sebagai relay yang mengontrol temperatur, selain itu hakko memiliki berbagai pilihan bentuk pin solder yg dapat disesuaikan dengan kebutuhan, dipasaran harganya berkisar antara 200 ribuan, dan untuk timah asahi ada dua pilihan menggunakan timbal dan non timbal dengan diameter yang berbeda, yang biasa saya gunakan timah diameter, 1.5 mm. kalau terlalu besar menyulitkan
    trims kang moderator. mohon diberi masukan lagi ya,..

    BalasHapus
  14. Proffesional bgt nih mas Emir... Ditunggu update-annya nih mas, oh iya mas sekalian mau tanya kalau mau beli perlengkapan jack neutrik dan kabel dll di bandung ada rekomendasi dimana ya? Trims mas dan para pengunjung blog ini.... :)

    BalasHapus
  15. wah jos mas artikelnya. mas adalah seorang profesional yang mengutamakan kualitas pekerjaannya. akan saya contoh mas kedisiplinan anda.

    BalasHapus
  16. top banget mas emir trims ilmu soldernya

    BalasHapus
  17. Terima kasih atas Pen cerahannya mas,sangat bermanfaat buat semua,bravo mas Emir

    BalasHapus
  18. Hahahaha...sudah puluhan tahun....solder kabel jadi momok menakutkan bagi saya...thanks atas sharingnya

    BalasHapus
  19. Thks Berat, Sering nya menyepelekan hal sepele. ternyata berdampak besar. thks berat

    BalasHapus
  20. Sama-sama, ini tulisan saya di Majalah Audio Pro jadul masih sangat bermanfaat juga di era kabel digital saat ini rupanya.

    BalasHapus
  21. Wah jack Neutrik saat ini terlalu mahal dan sangat tidak ekonomis hargarnya, jadi coba pilih jack buatan Cina yang buatannya sebaik punya Neutrik.

    BalasHapus
  22. ikut nyimak, ternyata semuanya persis sama apa yang saya alami dan akhirnya saya tahu dimana letak kesalahannya, heheehe,
    sangat bermanfaat pak Emir artikelnya :D :D :D

    BalasHapus
  23. bang emir,, posting juga dong cara urutan instalasi alat soundsystem ( dari mikser, equaliser, efek vokal, crossover, compresor, bbe, sampai amplifier )

    BalasHapus