Kamis, 25 Maret 2010

TITIK PERPOTONGAN FREKUENSI (CROSSOVER BAGIAN I)

TITIK PERPOTONGAN FREKUENSI (CROSSOVER BAGIAN I)
Oleh Emir F. Widya




Seorang soundman di sebuah club di Padang menunjuk sub woofer JBL SRX 4719 dan mengatakan “Mana crossover di dalamnya? Kalian ke manakan crossover di dalamnya.. ?”. Pernahkah subwoofer pasif diberikan crossover pasif di dalamnya? Apa sebenarnya pengertian crossover? Apa itu crossover pasif? Apa itu crossover aktif?

Kurang Pengertian

Memang ada beberapa merek yang kurang kita kenal membuat subwoofer pasif dan menambahkan crossover pasif di dalamnya. Akan tetapi ternyata crossover pasif ini tidak menolong banyak, malah menghabiskan power. Pendapat semacam ini sebenarnya karena kita kurang mengerti crossover secara lebih mendalam.
Banyak orang salah mengartikan pemberian crossover di dalam subwoofer dianggap bermanfaat, tetapi malah merugikan, karena menghambat suara dan membuat panas crossover pasif tersebut saja. Di samping itu kemiringan filter yang di dapat juga kurang memuaskan, hanya sebanyak 18 dB per oktaf saja.




Gambar A. Jajaran subwoofer Tee Box Padang

Tanpa Suara Hentakan

Ketidak hadiran suara hentakan dari sebuah subwoofer, dapat disebabakan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah sebagai berikut :

• Penempatan subwoofer yang salah, di sudut ruangan sehingga bergaung.
• Pemilihan jenis subwoofer yang salah, tidak sesuai peruntukkannya, atau desain subwoofer yang salah.
• Selisih fasa antara subwoofer dengan speaker full range pada titik perpotongan frekuensi (crossover point).
• Kecuraman dari filter pada titik perpotongan frekuensi.
• Komponen atau isi dari subwoofer yang tidak sesuai dengan box maupun peruntukkannya.
• Polaritas subwoofer atau speaker full range yang salah.
• Posisi pendengar berada di tempat yang salah, pada area di mana suara rendah justru saling menghilangkan (canceling).
• Jumlah dan jarak antar subwoofer.
• Besarnya power dan karakter power ampli yang kita pergunakan.

Masih banyak lagi faktor lainnya yang dapat kita kumpulkan mengenai permasalahan suara sebuah subwoofer. Saat ini penulis hanya akan memfokuskan kita pada langkah yang paling utama, yaitu pada polaritas dari subwoofer dan fullrange saja, untuk permasalahan lainnya akan penulis bahas pada kesempatan berikutnya.

Polaritas Acuan

Mengapa harus polaritas? Bagaimana dengan polaritas subwoofer? Apakah polaritas subwoofer harus sama dengan polaritas speaker full range? Atau haruskah polaritas subwoofer terbalik dari polaritas speaker full range? Ini semua adalah pertanyaan yang timbul pada saat kita akan memasang sebuah subwoofer dan sebuah speaker full range, polaritas siapakah yang akan kita jadikan acuan? Apa itu polaritas? Polaritas adalah posisi kutub positif dan kutub negatif dari kabel yang menghantarkan arus maupun sinyal antar alat sound sistem, apakah posisi sambungan terseubut akan membuat komponen speaker bergerak maju atau malah bergerak mundur. Daun speaker siapa yang harus bergerak maju? Apakah daun woofer speaker full range? Apakah daun woofer subwoofer? Atau kedua-duanya?
Dari sekian banyak kasus dan pengalaman penulis, penulis hanya akan memusatkan perhatian pda polaritas woofer dari speaker full range secara khusus. Mengapa demikian? Woofer pada speaker full range adalah komponen yang menghasilkan suara rendah. Pada umumnya sasaran utama sound sistem yang kita set adalah menghasilkan suara vokal yang terdengar jelas dan tebal. Coba perhatikan apa yang terjadi apabila polaritas woofer speaker full range kita balikkan? Apa yang akan terjadi? Suara vokal yang akan paling banyak terpengaruhi adalah suara vokal laki-laki. Suara vokal laki-laki akan terdengar kurang tebal, ini sebagai akibat fasa pada suara rendah menjadi terbalik. Akibatnya adalah telinga kita dipaksa mendengarkan suara yang dihasilkan woofer speaker full range sececara terbalik, inilah yang membuat suara rendah vokal laki-laki menjadi terdengar tipis. Mengapa demikian? Ini perlu penjelasan panjang lebar, penulis akan menuliskannya di lain kesempatan.
Bagaimana caranya untuk mengetahui posisi polaritas sebuah komponen? Untuk mengetahui polaritas dengan mudah dan cepat, gunakanlah alat pengecek polaritas (polarity checker). Alat ini akan memberikan tanda hijau apabila daun woofer tersebut bergerak maju.


Catatan Penting :
Perhatikan polaritas konektor XLR dari setiap alat yang anda rangkai, apakah mixer, power, dan lain-lain, termasuk polaritas tone generator dari alat pengecek polaritas. Alat-alat sound system pada saat ini telah megacu kepada penggunaan pin nomor 2 sebagai kutub +, sedangkan alat-alat sound system sebelum peraturan ini dikeluarkan menggunakan pin nomor 3 sebagai kutub + pada konektor XLR-nya. Jangan lupa untuk mengecek polaritas konektor XLR pada tone generator dari alat pengecek polaritas.

Cara lainnya untuk mengecek polaritas woofer adalah dengan menggunakan baterai 9 volt, akan tetapi cara ini akan sangat menyulitkan. Karena untuk melihat pergerakkan daun woofer dengan mata kita akan sangat sulit, apakah woofer yang kita cek daunnya bergerak maju atau bergerak mundur.

Berlatih Mendengarkan Penggabungan Suara Yang Benar

Proses selanjutnya adalah anda hanya perlu mendengarkan suara yang dihasilkan dari penggabungan antara suara subwoofer dan speaker full range. Apabila suara rendah bertambah (summing), atau mungkin juga frekuensi respon tetap dalam kondisi flat (tanpa penambahan atau pengurangan). Dapat dikatakan subwoofer sudah dalam posisi polaritas yang benar dengan speaker full range. Namun jika polaritas subwoofer berada pada posisi yang salah, maka suara rendah akan terdengar tertekan (canceling) pada frekuensi tertentu. Tentu saja cara ini memerlukan kepekaan telinga anda, dan anda harus melatih telinga anda untuk mendengarkan fenomena yang terjadi ini. Apabila anda memiliki RTA (real time analyzer), maka melalui RTA, anda akan dapat melihat apa yang terjadi dengan lebih jelas.
Suara yang bagaimanakah sebenarnya yang kita cari? Tentu saja kita harus mendapatkan suara yang semakin bertambah (summing), atau justru malah yang saling menghilangkan (canceling) antara subwoofer dan suara rendah yang dihasilkan oleh speaker full range. Pada frekuensi berapa penambahan ini akan terjadi? Efek ini pada umumnya terjadi tidak jauh dari area di sekitar titik perpotongan frekuensi yang telah kita pilih. Sebagai contoh, apabila anda menaruh titik perpotongan frekuensi pada frekuensi 100 Hz, maka efek saling menambah akan berada pada frekuensi setelah 100 Hz, demikian pula apabila kita balik polaritas dari subwoofer maka efek saling menghilangkan akan juga timbul pada frekuensi setelah 100 Hz. Perhatikan Gambar B. tidak terjadi efek saling menghilangkan pada rentang frekuensi rendah setelah titik perpotongan frekuensi pada frekuensi 90 Hz.




Gambar B. Frekuensi respon yang benar antara subwoofer dan full range.

Efek saling menghilangkan atau penambahan pada frekuensi rendah, justru terjadi tidak pada rentang frekuensi subwoofer (yang berada di bawah titik perpotongan frekuensi). Gangguan ini justru terjadi pada rentang frekuensi rendah dari speaker full range. Mengapa demikian? Energi subwoofer umumnya lebih besar dari pada energi speaker full range, sehingga sangat jarang sekali area rentang frekuensi subwoofer yang terpengaruh, kecuali subwoofer dan speaker full range berada pda tingkat kekuatan yang sama. Kemungkinan lainnya adalah disebabkan karena distorsi harmonik yang timbul dari suara subwoofer itu sendiri yang mengakibatkan efek saling menghilangkan pada rentang frekuensi rendah yang berada pada rentang frekuensi rendah speaker full range.

Saling Menambahkan

Suara hentakan yang kita dengar, terdapat di antara frekuensi 100 Hz hingga 125 Hz. Frekuensi ini dihasilkan baik oleh subwoofer, maupun speaker full range. Hanya saja apabila terjadi efek saling menghilangkan terjadi pada frekuensi ini maka suara hentakan akan tenggelam oleh frekuensi lainnya yang terdengar lebih menonjol. Ini disebabkan karena energi subwoofer lebih besar dari energi suara rendah speaker full range, efek saling menghilangkan (canceling) justru terjadi di antara rentang frekuensi tersebut.
Besar harapan penulis apa yang harusnya menjadi dasar pemasangan subwoofer dapat kita pahami sekarang, bahwa suara hentakan tidak hanya bersumber dari suara subwoofer saja. Melainkan berasal dari penggabungan antara suara yang dihasilkan oleh subwoofer dan suara rendah yang dihasilkan oleh speaker full range. Polaritas memainkan peranan penting dalam menghasilkan suara hentakan, kesalahan pada polaritas dapat mengakibatkan hilangnya suara favorit kita ini.

Penulis adalah pemilik dari 7 Konsultan & Kontraktor Tata Suara dan membantu untuk PT. Kairos Multi Jaya.

12 komentar:

  1. jadi pada equlizer frekuensi berapa ug dinaikan, kalau saya biasanya pada cross over main di 100hz, di equlizer 2x31 main flat tapi dibagian 20,22 dan 40 saya naikan.
    Dan vol eq di +6db.
    Bass yg dihasil lumayan bagus.Didepan speaker hentakan tidak terasa tapi 10 m kedepan baru nyesak ke dada,gimana komentarnya.
    speaker saya peavey box rakitan 2x18,2 box kiri kanan.

    BalasHapus
  2. Bang Indra, sebaiknya subwoofer jangan diangkat dari Equalizer, karena dapat merusak subwoofer maupun suaranya. Jika ingin mngeluarkan suara di frekuensi tersebut, lebih baik perbaikilah box nya, dan kabel speakernya Bang.

    BalasHapus
  3. box, kabel, posisi dan phase yah kang, hee...

    BalasHapus
  4. jadi untuk subwoofer tidak perlu dikasih Equalizer, mohon pencerahannya bang emir.

    BalasHapus
  5. Sebenarnya kita harus melihat dulu fungsi equalizer itu apa Mas? Ada beberapa subwoofer yang bandel dan masih mengeluarkan frekuensi yang tidak kita inginkan, tentu saja ini terjadi setelah dicrossover. Jadi kita harus meng-EQ frekuensi yang berlebihan tersebut Mas.

    BalasHapus
  6. Tetapi harus diingat, agar tidak berlebihan meng-EQ. Harus diingat apabila terjadi efek saling menghilangkan (canceling), maka sebagaimana besar kita meng-EQ, frekuensi yang hilang akan tetap hilang.

    BalasHapus
  7. waktu saya setting...suara sub di FOH terasa mantab...trus saya mencoba mendengarkan agak kekiri dan kekanan....ada beberapa frekwensi sub terasa kurang menhentak....itu bagaimana caranya biar semua frkwensi merata di segala arah.. saya pakai sub nexo s2 custom, speakers saya pakai B&C NW100 18", power pakai powersoft digam 7000, dlms pakai klark teknik dn9848 (sub 20hz-80hz, low 80hz-250hz)

    BalasHapus
  8. Ooo pakai subwoofernya Pak Imam, posisi subwoofernya bagaimana Mas? Kalau mau merata harus diberi jarak antar suh, tinggal bagaimana cara menyusunnya saja Mas.

    BalasHapus
  9. saya sony mas yg posting pakai nama kalep, salam kenal dr madiun ,mas emir kok tau kalau box itu bikinan pak imam hehehe.....suh itu apa mas...apa suhu yg di maksud....tata letak subwoofer saya biasanya flat line mas....kalau menurut mas emir enaknya bagaimana...?????

    BalasHapus
  10. O ya Mas, nah flat line itu bagaimana yang Mas maksudkan? S2 itu sudah terkenal bikinan Pak Imam Mas, banyak kok yang menggunakannya Mas. Coba foto dan uploadkan di Facebook bagaimana Mas menyusunnya, saya ingin melihatnya mas.

    BalasHapus
  11. Malam mas saya sudah pakek dbx untuk sound sistem saya karna saya ngak cukup uang mau nambah beli eq apakah saya perlu menambahkan Eq pada sound sistem saya,,,,? makasih Master

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya tidak perlu kalau saya tinjau ulang pendapat saya di atas banyak yang harus saya perbaiki.

      Hapus